Skip to main content

TITIK 4



Sudah sore. Pengumuman pemenang pun sudah dibacakan- Pemenang dari sekolah yang aku lupa namanya. Kini aku sudah di lantai bawah. Duduk di dekat kelas yang berlorong sambil memperhatikan panitia lomba paskibra yang sedang beres-beres. Ingin rasanya membantu tapi badanku sudah lemas. Kakiku pegal akibat berjalan- jalan dari tadi. Aku dan teman-teman osis yang lain juga sudah membereskan ruang osis yang berantakan akibat dagangan. Air yang tumpah di lantai ruang osis juga sudah di lap. Waktunya pulang tapi aku masih menunggu ayah yang sedang di perjalanan untuk menjemputku. tadinya aku ingin menumpang pada luna, namun luna tidak bisa karena ia tidak langsung pulang ke rumahnya. Anak- anak osis yang lainnya pun sudah pada pulang- ingin cepat-cepat pulang karena kelelahan. Saat aku memberi pesan ke zakki pun, zakki tak bisa pulang bersamaku karena ia masih di kampus dan nongkrong dengan teman-temannya. Rajin sekali memang kakak ku yang satu ini. Ngapain juga minggu- minggu masih ke kampus. Tanpa berkaca, akupun sama seperti zakki. Ke sekolah padahal hari minggu. Tapi kan aku kesekolah untuk berjualan. Lah kalau dia? Hanya nongkrong sama teman teman. Aku masih berusaha membela diri. Baru aku ingin bangkit dari duduk. Ingin berjalan ke depan gerbang sekolah. Rencananya aku ingin menunggu ayahku di sana saja. Tapi akupun tak jadi berdiri juga akhirnya karena bintang tiba-tiba datang kepadaku. Dia tersenyum padaku lalu duduk di sebelahku. Kalau aku tidak sopan mungkin aku langsung pergi saja dari tempatku duduk. Tanpa mengucapkan salam sama sekali. Tapi rasa sopanku selalu tertinggal dalam diriku dan rasanya jengkel juga menjadi orang sopan. Masih sopan pada orang yang sudah menyakitimu misalnya. Aku memang terlalu baik. “hai” sapanya dengan sangat ramah. Tak ingin aku jawab walaupun akhirnya aku balas “hai juga” bodoh. Benakku lagi.
“gak pulang?” tanyanya. Cie perhatian. Ucapku dengan nada mengejek dalam hati. Tapi barangkali ini bukan perhatian. Dia mungkin hanya ingin bersikap sopan saja. Sepertiku yang sedang berusaha sopan padanya.
“ini lagi nunggu ayah jemput”
“wah mau liat ayah lo dong. Kan waktu itu pengen ketemu gak jadi-jadi” aku terbengong dan tersenyum lemah pada bintang. Bukannya belum lupa atau bagaimana. Tapi ini baru tiga minggu setelah aku putus darinya. Lukaku pasti juga belum terlalu kering. Mengingat kejadian di hari itu. Tapi toh aku bukannya memakinya saja tapi aku malah menjawab “ya semoga nanti bisa lihat” perempuan yang terlalu baik. Keluhku dalam hati.
“far denger deh lagu ini. Enak” bintang sedang menawarkan sebelah headset nya padaku. Apa ini juga sopan santun? Tanyaku. Aku mengambilnya setelah berfikir cukup lama. Aku memakai headsetnya di telinga sebelah kiri. Aku hanya memandang lurus ke depan. Sambil sesekali banyak orang yang memperhatikan ku dan bintang. Mungkin bertanya- Tanya kenapa tiba-tiba aku dekat lagi dengan bintang. Jangankan mereka,aku juga bingung. Aku punya alasan mengapa aku tidak menunduk saja. Karena aku takut saat aku menunduk nanti aku malah meneteskan air mata- air mata sisa sakit tiga minggu yang lalu. Karena yang benar saja, bintang menyetel lagu kesukaanku- lagu yang saat itu di dengar oleh bintang dan aku, berdua saat masih bersama dulu. Kata dulu seperti lampau sekali sebenarnya. dan satu lagi alasanku sebenarnya. aku melihat gilang yang sempat melihat ke arahku. Gilang memakai kaos polo, memakai tas coklat kemerahannya dan tentunya kacamata yang tergantung ditulang hidungnya. Aku baru benar-benar melihat penampilannya sekarang. Dari jauh- entah sebenarnya dia tadi melihatku atau tidak. Tapi aku berharap begitu. Aku melihatnya sedang melambai-lambaikan tangan pada teman-temannya untuk pamit pulang. Dan dia pun berjalan. Aku masih melihatnya walaupun kini yang terlihat hanya punggung badannya. Lagu kita yang di nyanyikan vidi aldiano masih menggema merdu di telingaku. Terasa cocok saat aku melihat gilang dan lagu ini seperti backsound nya. Disaat asyik memperhatikan gilang yang kini sudah lenyap dari pandangan perasaan sedih langsung mengerayapi diriku. Padahal besok aku juga bisa bertemu dengan gilang. Tapi itu masih lama. Beberapa jam lagi itu masih lama. Ujarku dalam hati.
“lo gak mau pulang tang?” tanyaku pada bintang yang sedang memperhatikanku. Sedikit kaget aku tak mengucapkan “entang” seperti biasa. Itu kan panggilan sayangku pada bintang.
“fara” “apa?” tanyaku penasaran. Mungkin bintang ingin bilang “minta uang parkir dong” seperti teman- temanku yang lain kalau sudah berkata lembut seperti itu, merayu agar mendapatkan uang parkirnya. Tapi tak masalah sih, aku masih ada uang. Kalau seribu duaribu aku masih punya. “gue masih sayang sama lo”




Hening.
“setelah putus… ya gue tau kalau gue yang mutusin untuk selesai. Tapi anehnya setelah itu gue ngerasa sepi. Sepi gak ada lo, gak ada ym dari lo. gak kayak hari biasa yang biasa gue jalanin sama lo. dan yang bener aja gue masih mikirin lo….”


Masih hening.
“hari ini sengaja gue nungguin lo, untuk bilang ini lagi. Biar hati ini tenang lagi. Gue pengen tau apa lo masih sayang sama gue atau enggak. Tapi gue putusin untuk gak nanya itu. Gue takut jawabannya lo gak sayang lagi sama gue. Tapi gue masih mau nanya ini. Nanya pertanyaan yang sama kayak dulu di lapangan futsal- ya gak benar-benar sama. Apa lo mau jadi pacar gue lagi?”
Mimpi apa aku semalam? Harusnya aku mimpi indah semalam. Tapi kalau di ingat lagi… tidak. Semalam itu aku mimpi buruk. Mimpi dikejar-kejar ular dan aku berteriak karena takut. Itu pasti bukan mimpi indah kan? Jantungku berdebar kencang. Sangat naluriah tapi. Entah ini emosi apa, apakah ini emosi senang, terharu, atau marah? Aku masih diam menatap bintang. Lalu kenapa? Kenapa bintang memutuskan aku? bintang jenuh saat itu. Lalu katanya setelah itu ia masih memikirkanku. Kenapa dia memikirkan ku? Memikirkan perempuan yang membosankan. Bodoh. Kenapa tak langsung aku tanyakan saja pada bintang. Mengapa aku malah bertanya dalam hati? Padahal tau kalau aku memendamnya tak akan ada jawaban.
“gue janji, gue bakal jagain lo lagi, gak nyiain lo lagi. Terserah, mungkin lo mikir ini bulshit atau gimana, tapi gue beneran sayang sama lo. waktu itu gue lagi mikir pendek far. Maafin gue” mikir pendek? Tanyaku dalam hati lagi. Harusnya dia berfikir panjang pada orang yang ia sayangi. Satu kesalahan yang fatal untuk bintang. Aku bingung harus berkata apa, sehingga aku hanya berkata.
“kenapa? Kenapa baru setelah tiga minggu lo baru bilang lo masih sayang?” apa karena lo gak dapetin cewek yang lo suka sebenarnya, terus lo mutusin untuk balik lagi sama gue? Tanyaku melanjutkan dalam hati. Perkataanku sedikit kaku dan tidak lancar. Merasa aneh sendiri mendengar suaraku. Dentuman musik masih terdengar di telingaku. Instrument yang sering di mainkan bintang terdengar di telinga. Tapi musiknya samar-samar terdengar.
“gue takut. Gue ragu apa lo mau nerima alasan gue atau enggak. Akhirnya gue putusin untuk coba berfikir tentang keputusan gue yang waktu itu. Dan jawabannya adalah gue bodoh banget udah mutusin lo. gue nyesel banget. Dan sekarang gue baru berani bilang sama lo” tertegun juga mendengar perkataan bintang yang terlihat bersungguh- sungguh. Namun apa lagi yang harus aku katakan. Sampai akhirnya aku melihat ayahku yang ingin berjalan kearah lapangan basket. Dan syukurnya dia masih bertanya- Tanya dimana keberadaanku pada orang yang ada. Pasti dia belum melihatku disini. Akhirnya aku melepas headset yang ada di telinga sebelah kiriku. Tak ada lagi suara yang mengisi telinga. Aku berdiri dan menunduk memandang bintang. Bintang masih belum puas dengan penjelasannya mungkin. Atau bintang mengharapkan jawaban?
“hem…. Eh ayah gue udah dateng jemput…”
“mana?” Tanya bintang benar-benar ingin melihat. “itu yang pakai kaos kuning” kataku sederhana. “pulang duluan ya” tambahku. “iya ini gue juga mau pulang kok” aku tersenyum. Benar juga. Kan dia memang menunggu ku dari tadi. Jadi kalau aku pulang, ia juga akan pulang.
“hati-hati ya” ucapnya. Dan selanjutnya “gue masih mau jawaban lo” aku mengangguk, membalikkan badan dan berjalan secepat mungkin dari bintang. Sekaligus panik takut-takut nanti ayah melihatku berduaan dengan cowok. Sampai akhirnya aku menepuk pundak ayahku “ayo yah kita pulang”

bersambung...

Comments

Popular posts from this blog

17 IN LOVE? -part 1-

yayayayayayaya mungkin kalian penasaran sama judul di atas. ya mungkin aja enggak penasaran. Ah, aku kan engak tau masing-masing pikiran kalian. 17 IN LOVE. tidak akan saya tulis lagi sebuah tanda tanya. Karena ini bukanlah suatu pertanyaan lagi, yaya, sabar saya enggak akan muter-muter kok jelasinnya. Enggak banyak kejadian lagi-- seperti dulu-- yang melibatkan kami berada pada suatu tempat. karena waktu mengubah semuanya. Terpisah, berbeda jadwal, ingin bertemu. ingin bertemu. ingin bertemu. akhirnya kata-kata itu yang selalu terulang di group chat. Oke, para manusia freak 17, it's really sweet memories ever feel. Benar tidak ada yang kebetulan, dan angka 17 ini bukanlah suatu kebetulan untuk kita, you know what, walaupun sekarang umur kita setahun lebih tua dari nama angkatan kita sendiri,(Hayo, ada yang protes tuh:p) tapi.....jiwa kita layaknya jiwa muda yang terus bergelora, berkobar, yaaaaa kayak remaja baru gede gidong deeeee. HEEEEEEE. FOTO 1: Anggap saja ia AHMAT ...

dekatkan diri pada Allah

assalamualaikum semuanya:D semangat baru yaaaa di bulan April ini... selalu ada semangat baru di bulan yang baru. banyak yang berharap ini itu di bulan yang baru. semoga harapan itu bukan hanya di mulut saja tetapi juga ikut di realisasikan ya:) kalau harapan aku di awal bulan ini lancar uts nya, diberi kemudahan oleh Allah, semoga aku dapat berkonsentrasi mengerjakannya. lakukanlah semuanya karena Allah swt :) aku juga baru baca, seseorang yang melakukan ibadah seperti shalat dan semacamnya bukan karena Allah, itu di namakan syirik garad. nauzubillah min zalig.... jangan sampai kita termasuk golongan tersebut. terus aku juga ingin bilang, jangan berbicara tentang april mob. di dalam islam kan gak ada tuh tentang april mob. coba kamu searching lagi tentang april mob, jangan sampai kita termasuk orang yang merugi yang ikut merayakan april mob. dengan segala kekurangan dan kelebian yang aku punya, aku juga masih banyak kesalahan:-) semangat UTS yaaaa, aku baru mau uts nih hari ini. ...

Hujan

Mulai kembali musim yang selalu aku renungi adanya, sekaligus merasa aneh jika tak aku syukuri adanya. Hujan selalu berhasil membuatku terdiam dan mengingat hal yang tak seharusnya aku ingat, seketika membuyarkan mimpiku yang indah menjadi hilang kabut tak bisa kembali ku gapai. Hujan, berhasil berhenti membuatku tertawa digantikan dengan resah yang entah mengapa sulit dihilangkan. Menggantikan musim yg terang menjadi langit yang gelap ditutupi oleh awan. Ini filosofinya, membuat keadaan yang tadinya ramai seketika sepi. Hujan..... Ku tarik helaan nafas lagi.... Hujan berhasil membuat fikiranku berkelana terlalu jauh hingga sadar bahwa itu menyakitkan, membuat kerinduan terasa mencekam sekaligus rasa yang paling mengerikan sedunia. Akhirnya aku baru sadar aku telah menulis ini, karena hujan. Tak lupa ku ingat bahwa setelah ini pasti ada pelangi, yang selalu mengiringi kesedihan dengan keindahan di akhirnya.