Skip to main content

TITIK 8


4.   PDKT
Hari kedua sama suksesnya seperti hari pertama. Datang kesekolah lebih cepat, gerbang sebelah kanan yang pasti terbuka, tangga kecil di dekat kelasku yang terbuka tak di gembok. Saat pulang pun sama lancarnya seperti hari pertamaku. Jadi….. ini sempat menimbulkan pertanyaan untuk bintang.
gue kok gak liat lo lagi ya?
BUZZ!!
Dikantin juga gak ketemu
lagi banyak banget tugas yang belum selesai tang
yaudah
kalau ketemu pokoknya pengen denger jawaban ya dari lo

dalam hati aku khawatir dengan perkataan bintang. Jawabanku apa? Memangnya aku ingin jawab apa? Kini aku jadi sering berdoa semoga hari-hari ku di hindarkan dari seorang bintang caressa nugraha.
dan sekarang akupun panik karena keterlambatanku pagi ini. sampai aku tak sarapan karena memang tak sempat. Pintu kamarku terkunci karena semalam aku sedang belajar giat dan tidak ingin di ganggu, saat ingin tidur aku lupa memutar kunci agar tidak terkunci dan ibuku dapat membangunkanku seperti biasa. Ditambah lagi ban motorku yang tiba-tiba bocor. Sehingga aku pun berangkat diantar ayahku. Sampai disekolah jam 07.10. bintang pasti sudah sampai di sekolah. Pintu gerbang paling kanan aku lewati dengan berjalan cepat. Kini aku seperti diburu-buru kucing tetangga dirumah yang biasa menggangguku. Saat aku berjalan kearah tangga semuanya membuatku panik dan berdiri lemas. Pagar tangga tersebut masih di gembok. Aku harus berbuat apa dong? Dengan gerakan yang berusaha berjalan lebih cepat lagi.karena kebetulan aku memakai rok rempel sehingga dengan sangat mudah untukku, aku berjalan kearah ruang tata usaha. Ruangan ,masih sepi. Belum begitu banyak guru yang berdatangan.
“kenapa neng? Spidol kelas?” Tanya pak agus pengurus TU. Aku tersenyum sejenak. Aku memang suka ke TU untuk mengambil spidol kelas yang  biasanya habis. Namun sekarang ini lain. Sangat lain.
“TU kan bukan buat spidol kelas doang pak. Saya mau minta kunci gembok belakang dong pak”
“belakang mana? Belakang kan banyak. Kamar mandi aja di bilang ‘belakang’”
“kunci gembok yang tangga belakang pak. Itu loh tangga yang dekat sama perpustakaan”
“nah bilangnya yang lengkap dong neng. Oh kalau itu mah adanya di ibu perpus”
“terus bu dewinya dimana?”
“belum datang. Palingan sih jam 8 sudah datang”
Jam 8? Aku butuhnya sekarang!!!!
“emang buat apa sih?”
“ya buat masuk kelas lah pak….”
“masuk kelas? Kalau masuk kelas mah ke tangga yang itu juga bisa. Ngapain ke tangga yang kecil segala?” aku hanya menahan kesal dalam hati. Sambil beristigfar. Rasa emosional ku sedang naik. Hal ini serig terjadi jika sedang panik. Aku memang enggak tau bintang sudah dikelas atau belum. Tapi aku ambil sialnya saja kalau misalkan bintang sudah datang dan dia melihatku?
“pokoknya ini penting pak”
“ya mau gimana? Kalau mau jam 8. Kalau sekarang mah gurunya belum ada” aku mulai bingung dan kehabisan akal. Tidak ada jalan lain selain tangga kecil itu untuk bisa melewati kelas bintang.
tapi akhirnya seperti bantuan yang jatuh dari langit. Aku melihat dari ruang TU tempatku berdiri, bintang sedang menuruni tangga bersama temannya. Aku reflex menutupi badanku di belakang pintu agar tidak terlihat oleh bintang. Bintang juga sedang mengobrol dengan temannya dan tak sadar dengan sekelilingnya. Aku menunggu waktu yang tepat hingga akhirnya aku lari secepat yang aku bisa sambil menaiki anak tangga satu persatu.

Hari apakah hari ini? ada apa dengan hari ini? karena hari ini memang tidak berjalan mulus seperti yang aku harapkan. Berawal dari pagiku, jam istirahatku, dan sekarang bel pulang sudah berbunyi pun aku masih saja duduk lemas karena kecewa. Aku sama sekali tidak mengobrol dengan gilang. Gilang juga sama sekali tak menghampiriku saat makan siang di kelas. Tidak mengerjaiku seperti biasa. Lebih banyak duduk dan memainkan handpone nya. Sedangkan aku hanya seperti orang pendiam membiarkan diriku tidak mengobrol dengan siapapun karena mawa yang hari ini tidak masuk. Aku lalu dengan sangat tidak bersemangat memasukkan buku biologiku yang tercecer di meja. Anak-anak yang lain sangat bersemangat namun aku tidak sama sekali. Guru biologi ku menunggu KM kelasku menyiapkan sambil duduk. Setelah melihat guruku akupun melihat gilang yang sudah duduk dan siap untuk pulang. Setelah mengucap salam dan guruku menjawab kami pun berdiri dan segera menghambur keluar kelas. Gilang berbelok kearah kiri- dia melewati tangga kecil yang sekarang terbuka. Tidak seperti tadi pagi yang bekum terbuka. Sediikit heran karena biasanya gilang melewati tangga yang besar di dekat ruang TU.
“lang, tumben lewat tangga ini” aku berusaha mencairkan suasana diantara derap langkah ku dan gilang.
“emang gak boleh?”
“ya gapapa sih. Tapi kan biasanya selalu lewat tangga yang dekat TU” gilang sempat diam lalu berkata.
“ya gapapa. Pengen lewat sini aja. Penasaran kenapa belakangan ini ada orang yang pulagnya lewat tangga ini terus”
“siapa memang?”
“lumayan banyak kan yang lewat tangga ini?” tanyanya sambil menaikkan alis kanannya. Jika seperti ini mengapa gilang terlihat sangat keren ya? Aku hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan gilang. Kini gilang sudah berjalan bersebelahan bersamaku.
“lagipula lo kok mehatiin aja gue sukanya ke tangga yang disana?” tanyanya sambil tertawa. Aku jawab saja dengan sekenanya dan se rasional mungkin,
“loh. Kalau lo sering lewat tangga keci tadi seharusnya gue suka liat lo dong. Lagi pula kan lo biasanya keluar paling pertama dari pintu dan langsung belok ke kanan” sebenarnya agak malu aku menjawab pertanyaan gilang dengan panjang dan lebar. Justru jawaban yang panjang dan lebar inilah yang seperti mencari-cari alasan.
“bisa jadi” ucapnya singkat sambil tersenyum. Untung aku tidak pingsan. Untung aku masih bisa bernafas sekarang.
“kenapa telat tadi?” tanyanya. Sedikit tersanjung karena gilang sedikit perhatian. Atau mungkin ia hanya iseng bertanya ya? Daripada hanya diam tak ada bahan obrolan.
“ban bocor. Baru tau tadi pagi juga. Jadi bareng ayah. Kan kalau sama ayah naik mobil jadi lama deh” aku menjawab selengkap mungkin. Padahal sepertinya tak lengkap penjelasan juga gak apa-apa. Ya. Gak apa-apa pasti.
“enggak persiapan sih. Makanya malam itu cek motor. Kayak gue” aku melihat gilang nyengir. Aku jadi gemas melihat gilang seperti itu.
“penting banget gitu di kasih tau kalau lo suka ngecek motor malem-malem?”
“yaiyalah. Berarti kan motor gue itu selalu benar”
“rumah lo kan deket dari sekolah. Mesin juga awet dong. Lah gue kan jalannya aja dari rumah kesekolah jauh. Ban jadi bocor. Mesin juga gitu”
“emang rumah lo sejauh apasih?” aku dan gilang sekarang sudah berada di depan sekolah. Masih berjalan pelan sambil mengobrol bersama.
“jauh pokoknya. Lain kali lo harus coba berangkat dari rumah gue ke sekolah”
“iya harus?” “ya”
“kalau dari rumah gue ke rumah lo. terus kesekolah lagi jauh gak?”
“ya apalagi itu berasa jauhnya” gilang hanya diam. Pandangannya ke depan. Aku baru sadar bahwa aku mengantarnya sampai depan parkiran. Aku pun memberhentikan gilang.
“eh stop deh. Ini kenapa gue nganterin lo ke parkiran..”
“ya lo sendiri yang jalan ngikut gue. Emang lo bareng siapa pulangnya?”
“bareng luna. Tadi udah bilang bareng”
“emang rumah lo searah sama luna?”
“iya lumayan. Rumah gue kan di perumahan mitra kalau luna enggak. Tapi kalau berangkat lewat perumahan mitra”
“tapi kan masuk ke perumahannya lumayan jauh dong”
“enggak. Masuk perumahan tinggal lurus sedikit. Pertigaan belok kanan deh”
“hey” mungkin seharusnya ini sapaan biasa jika orang biasa. Namun siapa yang sangka jika yang memanggilmu itu adalah orang yang kamu hindari selama ini? bahkan dari setiap penghindaranmu kamu terperangkap karena dirimu sendiri yang membiarkan dirimu terperangkap.

Comments

Popular posts from this blog

17 IN LOVE? -part 1-

yayayayayayaya mungkin kalian penasaran sama judul di atas. ya mungkin aja enggak penasaran. Ah, aku kan engak tau masing-masing pikiran kalian. 17 IN LOVE. tidak akan saya tulis lagi sebuah tanda tanya. Karena ini bukanlah suatu pertanyaan lagi, yaya, sabar saya enggak akan muter-muter kok jelasinnya. Enggak banyak kejadian lagi-- seperti dulu-- yang melibatkan kami berada pada suatu tempat. karena waktu mengubah semuanya. Terpisah, berbeda jadwal, ingin bertemu. ingin bertemu. ingin bertemu. akhirnya kata-kata itu yang selalu terulang di group chat. Oke, para manusia freak 17, it's really sweet memories ever feel. Benar tidak ada yang kebetulan, dan angka 17 ini bukanlah suatu kebetulan untuk kita, you know what, walaupun sekarang umur kita setahun lebih tua dari nama angkatan kita sendiri,(Hayo, ada yang protes tuh:p) tapi.....jiwa kita layaknya jiwa muda yang terus bergelora, berkobar, yaaaaa kayak remaja baru gede gidong deeeee. HEEEEEEE. FOTO 1: Anggap saja ia AHMAT ...

dekatkan diri pada Allah

assalamualaikum semuanya:D semangat baru yaaaa di bulan April ini... selalu ada semangat baru di bulan yang baru. banyak yang berharap ini itu di bulan yang baru. semoga harapan itu bukan hanya di mulut saja tetapi juga ikut di realisasikan ya:) kalau harapan aku di awal bulan ini lancar uts nya, diberi kemudahan oleh Allah, semoga aku dapat berkonsentrasi mengerjakannya. lakukanlah semuanya karena Allah swt :) aku juga baru baca, seseorang yang melakukan ibadah seperti shalat dan semacamnya bukan karena Allah, itu di namakan syirik garad. nauzubillah min zalig.... jangan sampai kita termasuk golongan tersebut. terus aku juga ingin bilang, jangan berbicara tentang april mob. di dalam islam kan gak ada tuh tentang april mob. coba kamu searching lagi tentang april mob, jangan sampai kita termasuk orang yang merugi yang ikut merayakan april mob. dengan segala kekurangan dan kelebian yang aku punya, aku juga masih banyak kesalahan:-) semangat UTS yaaaa, aku baru mau uts nih hari ini. ...

Hujan

Mulai kembali musim yang selalu aku renungi adanya, sekaligus merasa aneh jika tak aku syukuri adanya. Hujan selalu berhasil membuatku terdiam dan mengingat hal yang tak seharusnya aku ingat, seketika membuyarkan mimpiku yang indah menjadi hilang kabut tak bisa kembali ku gapai. Hujan, berhasil berhenti membuatku tertawa digantikan dengan resah yang entah mengapa sulit dihilangkan. Menggantikan musim yg terang menjadi langit yang gelap ditutupi oleh awan. Ini filosofinya, membuat keadaan yang tadinya ramai seketika sepi. Hujan..... Ku tarik helaan nafas lagi.... Hujan berhasil membuat fikiranku berkelana terlalu jauh hingga sadar bahwa itu menyakitkan, membuat kerinduan terasa mencekam sekaligus rasa yang paling mengerikan sedunia. Akhirnya aku baru sadar aku telah menulis ini, karena hujan. Tak lupa ku ingat bahwa setelah ini pasti ada pelangi, yang selalu mengiringi kesedihan dengan keindahan di akhirnya.